TUGAS
MAKALAH
FILSAFAT
ILMU
Pengampu
: FINA ULYA.S.Fil.I M.Hum
Disusun Oleh : Kelompok 7
1. Nanang (133221316)
2. Fitri
Ariani (133221325)
3. Nanda
Aldila Sari (133221317)
4. Isnatul
Nur Aini (133221308)
Pendidikan
Bahasa Inggris
Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN
Surakarta
Tahun
2013-2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Positivisme diperkenalkan oleh Auguste
Comte (1798-1857) yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga
pegawai negeri yang beragama katolik. Karya utama A.Comte adalah Cours de
Philosophie Phositive, Kursus tentang Filsafat Positif (1830-1842), yang
diterbitkan dalam enam jilid . Selain itu ,karyanya inilah Comte menguraikan
secara singkat pendapat-pendapat positivis, hukum tiga stadia, klasifikasi
ilmu-ilmu pengetahuan dan bagan mengenai tatanan dan kemajuan.
Positivisme
merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu
pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontologi realisme
yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan
sesuai dengan hukum alam (natural laws). Upaya penelitian, dalam hal ini
adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada, dan bagaimana realitas
tersebut senyatanya berjalan.Setelah positivisme ini berjasa dalam waktu yang
cukup lama (± 400 tahun), kemudian berkembang sejumlah ‘aliran’ paradigma baru
yang menjadi landasan pengembangan ilmu dalam berbagai bidang kehidupan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian positivisme ?
2.Siapakah
tokoh-tokoh positivisme ?
3.Apa
pengertian postpositivisme ?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari positivisme
2.
Untuk mengetahui tokoh-tokoh positivisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Positivisme
Positivisme
berasal dari kata positif. Kata positif artinya faktual, yaitu apa yang
berdasarkan fakta-fakta. Secara istilah, positivisme adalah aliran filsafat
yang berpangkal dari fakta yang positif positif yang diluar fakta atau
kenyataan dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.
John M. Echols mengartikan
positive dengan beberapa kata yaitu POSITIF (lawan dari negatif), TEGAS, PASTI,
MEYAKINKAN.
Dalam filsafat, positivisme berarti suatu aliran
filsafat yang berpangkal pada suatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang
di ketahui dan berdasarkan data empiris
KAMUS BESAR BAHSA INDONESIA,
Positifisme berarti aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan itu
semata-mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti, sesuatu yang maya dan
tidak jelas di kesampingkan, sehingga aliran ini menolak sesuatu seperti
metafisik, ilmu ghaib, dan tidak mengenal adanya spekulasi.
Aliran ini berpandangan bahwa manusia tidak pernah
mengetahui lebih dari fakta-fakta atau apa yang nampak, manusia tidak pernah
mengetahui sesuatu di balik fakta-fakta.
Positivisme
diperkenalkan oleh Auguste Comte (1798-1857) yang tertuang dalam karya utama
Auguste Comte adalah Cours de philosophic positive, yaitu kursus tentang filsafat
positif (1830-1842) yang diterbitkan dalam enam jilid. Selain itu dia juga
mempunyai sebuah karya yaitu Discour L’esprit Positive (1844) yang artinya
pembicaraan tentang jiwa positif.
Menurut positivisme, pengetahuan
kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian ilmu pengetahuan empiris
menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Kemudian, filsafat pun harus
meneladani contoh itu. Oleh karena itulah, positivisme menolak cabang filsafat
metafisika. Menanyakan “Hakekat” benda-benda atau “penyebab yang sebenarnya”,
bagi positivisme tidaklah mempunyai arti apa-apa. Ilmu pengetahuan hanya
menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.
Tugas khusus filsafat ialah
mengoordinasikan ilmu-ilmu yang beragam coraknya. Positivisme berkaitan erat
dengan yang dicita-citakan oleh empirisme. Positivisme pun mengutamakan
pengalaman, hanya saja berbeda dengan empirisme inggris yang menerima
pengalamam batiniah, dan subjektif sebagai sumber pengetahuan. Positivisme
tidak menerima pengalaman batiniah tersebut. Ia hanyalah mengandalkan
fakta-fakta belaka. Dalam paradigma ilmu, ilmuwan telah
mengembangkan sejumlah perangkat keyakinan dasar yang mereka gunakan dalam
mengungkapkan hakikat ilmu yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk
mendapatkannya. Tradisi
pengungkapan ilmu ini telah ada sejak adanya manusia, namun secara sistematis
dimulai sejak abad ke-17, ketika Descartes (1596-1650) dan para penerusnya
mengembangkan cara pandang positivisme, yang memperoleh sukses besar
sebagiamana terlihat pengaruhnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dewasa ini. Paradigma ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas
pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia, yakni bagaimana, apa, dan untuk
apa. Tiga pertanyaan dasar itu kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi.
a. Dimensi ontologis, pertanyaan
yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat dari
sesuatu yang dapat diketahui (knowable), atau apa sebenarnya hakikat
dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang
nyata (what is nature of reality?).
b. Dimensi epistemologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah:
Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan objek
yang ditemukan (know atau knowable)?
c. Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran nilai-nilai dalam suatu
kegiatan penelitian.
d. Dimensi retorik yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan dalam
penelitian.
e. Dimensi metodologis, seorang ilmuwan harus menjawab pertanyaan: bagaimana cara
atau metodologi yang dipakai seseorang dalam menemukan kebenaran suatu ilmu
pengetahuan? Jawaban terhadap kelima dimensi pertanyaan ini, akan menemukan
posisi paradigma ilmu untuk menentukan paradigma apa yang akan dikembangkan
seseorang dalam kegiatan keilmuan.
.
Positivisme
muncul pada abad ke-19 dimotori oleh sosiolog Auguste Comte, dengan buah
karyanya yang terdiri dari enam jilid dengan judul The Course of Positive
Philosophy (1830-1842).
Menurut
Emile Durkheim (1982:59) objek studi sosiologi adalah fakta sosial (social-fact):
Fakta sosial yang dimaksud meliputi: bahasa, sistem hukum, sistem politik,
pendidikan, dan lain-lain. Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran
individu, tetapi dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran itu
ditanyakan oleh penelitian kepada individu yang dijadikan responden penelitian.
Untuk mencapai kebenaran ini, maka seorang pencari kebenaran (penelitian) harus
menanyakan langsung kepada objek yang diteliti, dan objek dapat memberikan
jawaban langsung kepada penelitian yang bersangkutan. Hubungan epistemologi
ini, harus menempatkan si peneliti di belakang layar untuk mengobservasi
hakekat realitas apa adanya untuk menjaga objektifitas temuan. Karena itu
secara metodologis, seorang penelitian menggunakan metodologi
eksperimen-empirik untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul
objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Mereka mencari ketepatan
yang tinggi, pengukuran yang akurat dan penelitian objektif, juga mereka
menguji hipotesis dengan jalan melakukan analisis terhadap bilangan-bilangan
yang berasal dari pengukuran.
Di
bawah naungan payung positivisme, ditetapkan bahwa objek ilmu pengetahuan
maupun pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan (Scientific Proporsition)
haruslah memenuhi syarat-syarat (Kerlinger, 1973) sebagai berikut: dapat
di/ter-amati (observable), dapat di/ter-ulang (repeatable), dapat
di/ter-ukur (measurable), dapat di/ter-uji (testable), dan dapat
di/ter-ramalkan (predictable)
Paradigma
positivisme telah menjadi pegangan para ilmuwan untuk mengungkapkan kebenaran
realitas. Kebenaran
yang dianut positivisme dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi.
Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika
terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. Atau dengan
kata lain, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam
pernyataan tersebut bersesuaian (korespodensi) dengan obyek faktual yang
ditunjuk oleh pernyataan tersebut.
Setelah
positivisme ini berjasa dalam waktu yang cukup lama (± 400 tahun), kemudian
berkembang sejumlah ‘aliran’ paradigma baru yang menjadi landasan pengembangan
ilmu dalam berbagai bidang kehidupan.
B. Tokoh-Tokoh Positivisme
a). Auguste Comte ( 1798
– 1857 )
August
Comte dilahirkan pada 1798 di Montpellier, Prancis. Pada umur belasan tahun ia
menolak beberapa adat kebiasan dari keluarganya yang katholik orthodox, yaitu
kesalehan dalam agama dan dukungan terhadap bangsawan. Ia belajar disekolah
politeknik di Paris dan menerima pelajaran ilmu pasti. Sesudah menyelesaikan
sekolahnya ia mempelajari biologi dan sejarah, dan mencari nafkah dengan
memberikan les matematika. Comte bekerja sama dengan Saint Simon untuk beberapa
tahun, tetapi kemudian berselisih faham dan Comte bekerja secara mandiri. Comte
berusaha untuk memperoleh gelar professor tetapi tidak berhasil.[2]Sebuah
karya penting “ Cours de Philisophia Positivie “ (Kursur tentang filsafat
positif), ini berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi. Ia berpendapat bahwa
indera itu amat penting dalam memperoieh pengetahuan, tetapi harus dipertajam
dengan alat bantu dan diperkuat dengan experiment. Kekeliruan indera akan dapat
dikoreksi lewat experiment-experiment memerlukan ukuran yang jelas. Panas
diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat dengan kiloan,
dsb. Kita tidak cukup mengatakan api panas, matahari panas, kopi panas. Ketika
panas kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains
benar-benar dimulai.
Jadi pada dasarnya positifisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri.
Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan
kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan experiment dan
ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positifisame itu sama dengan empirisme plot
rasionalisme. Hanya saja, pada empirisme menerima pengalaman batiniyah,
sedangkan pada positivisme membatasi pada perjalanan objektif saja.
b). H. Taine ( 1828 – 1893 )
Ia mendasarkan diri pada
positivisme dan ilmu jiwa, sejarah, politik, dan kesastraan.
c). Emile Durkheim (
1852 – 1917 )
Ia menganggap positivisme sebagai asas sosiologi.
d). John Stuart Mill (
1806 – 1873 )
Ia adalah seorang filosof Inggris yang menggunakan system positivisme pada
ilmu jiwa, logika, dan kesusilaan.
C. Postpositivisme
Paradigma ini merupakan aliran yang
ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme, yang hanya mengandalkan
kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti.
Secara
ontologis aliran ini bersifat critical realism yang memandang bahwa
realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi satu hal
yang mustahil bila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia
(peneliti). Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental
melalui observasi tidaklah cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation
yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti dan teori.
Aliran ini menyatakan suatu hal yang
tidak mungkin mencapai atau melihat kebenaran apabila pengamat berdiri di
belakang layar tanpa ikut terlibat dengan objek secara langsung.
Adapun
beberapa asumsi dasar pemikiran “post-positivisme” ini, diantaranya :
1. Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan teori.
2. Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan
bukti-bukti empiris,bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menunjukkan fakta anomali.
3. Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
4. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah.
5. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
6. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
7. Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah keputusan.
3. Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai.
4. Interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah.
5. Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas adalah jamak individual.
6. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia) tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit tindakan yang bersangkutan.
7. Fokus kajian post-positivis adalah tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah keputusan.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang
postpositivisme empat pertanyaan dasar berikut, akan memberikan gambaran
tentang posisi aliran ini dalam kancah paradigma ilmu pengetahuan.
Pertama, Bagaimana sebenarnya posisi
postpositivisme di antara paradigma-paradigma ilmu yang lain? Apakah ini
merupakan bentuk lain dari positivisme yang posisinya lebih lemah? Atau karena
aliran ini datang setelah positivisme sehingga dinamakan postpositivisme? Harus
diakui bahwa aliran ini bukan suatu filsafat baru dalam bidang keilmuan, tetapi
memang amat dekat dengan paradigma positivisme. Salah satu indikator yang
membedakan antara keduanya bahwa postpositivisme lebih mempercayai proses
verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode.
Dengan demikian suatu ilmu memang betul mencapai objektifitas apabila telah
diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan berbagai cara.
Kedua, Bukankah
postpositivisme bergantung pada paradigma realisme yang sudah sangat tua dan
usang? Dugaan ini tidak seluruhnya benar. Pandangan awal aliran positivisme (old-positivism)
adalah anti realis, yang menolak adanya realitas dari suatu teori. Realisme
modern bukanlah kelanjutan atau luncuran dari aliran positivisme, tetapi
merupakan perkembangan akhir dari pandangan postpositivisme.
Ketiga, banyak
postpositivisme yang berpengaruh yang merupakan penganut realisme. Bukankah ini
menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui adanya sebuah kenyataan (multiple
realities) dan setiap masyarakat membentuk realitas mereka sendiri?
Pandangan ini tidak benar karena relativisme tidak sesuai dengan pengalaman
sehari-hari dalam dunia ilmu. Yang pasti postpositivisme mengakui bahwa
paradigma hanyalah berfungsi sebagai lensa bukan sebagai kacamata. Selanjutnya,
relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu benar, sedangkan realis hanya
berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap terbaik dan benar.
Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat menentukan banyak hal
sebagai hal yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh anggotanya.
Keempat, karena pandangan bahwa persepsi orang
berbeda, maka tidak ada sesuatu yang benar-benar pasti. Bukankah
postpositivisme menolak kriteria objektivitas? Pandangan ini sama sekali tidak
bisa diterima. Objektivitas merupakan indikator kebenaran yang melandasi semua
penyelidikan. Jika kita menolak prinsip ini, maka tidak ada yang namanya
penyelidikan. Yang ingin ditekankan di sini bahwa objektivitas tidak menjamin
untuk mencapai kebenaran
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada hakikatnya Positifisme adalah salah satu aliran filsafat modern yang
berpangkal dari fakta yang positif.
Jadi pada dasarnya positifisme bukanl aliran yang berdiri sendiri.
Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan
kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan experiment dan
ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positifisme itu sama dengan empirisme plot
rasionalisme. Hanya saja, pada empirisme menerima pengalaman batiniyah,
sedangkan pada positivisme membatasinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar